Presiden Prabowo Subianto
Presiden Prabowo menyampaikan pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat (14/8).(Dok. BPMI Setpres)

Media Internasional Angkat Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo, Ini Yang Jadi Sorotan

JAKARTA [BahteraJateng] – Sejumlah media Internasional ikut memberitakan pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD RI Tahun 2026 di Gedung DPR/ MPR, Jakarta pada Jumat (14/8).

Hal yang disorot antara lain soal rencana pemusatan ekspor sejumlah komoditas di bawah lembaga Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), yang baru dibentuk di masa pemerintahannya.


Reuters menuliskan Prabowo yang menggunakan pidato Hari Kemerdekaan keduanya untuk menyoroti rencananya mengamankan lebih banyak pendapatan dari sumber daya alam Indonesia, di saat tingkat persetujuannya menurun dan semakin skeptisisme investor terhadap kebijakan ambisius dan rencananya untuk mengendalikan ekspor komoditas.

“Kami tidak ingin rakyat Indonesia lagi dirugikan dengan tipu daya.Kekayaan Indonesia tidak boleh memperkaya segelintir orang terpilih sementara rakyat kita hidup dalam kesulitan,” kata Prabowo dalam pidatonya.


Ia mengatakan bahwa entitas ekspor baru tersebut telah mengidentifikasi potensi hasil ekspor sebesar USD 5 miliar dari perbedaan harga yang dilaporkan dan harga aktual.

Pasar komoditas global sebut Reuters sempat terguncang pada bulan Mei ketika Prabowo mengumumkan rencananya untuk memusatkan ekspor minyak sawit, batu bara, dan ferroalloy di bawah Danantara Sumberdaya Indonesia guna mengatasi under-invoicing, dan para investor sejak itu mencari kejelasan mengenai cakupan peran DSI.

Prabowo mengatakan bahwa dalam dua bulan pertama operasinya, DSI telah memantau lebih dari 6.500 transaksi untuk tiga komoditas utama tersebut dan mengawasi ekspor senilai $14 miliar.

“Segera, pemantauan ini akan meluas mencakup 50 pelabuhan dan, dalam jangka pendek, DSI akan mengelola semua ekspor komoditas strategis, bukan hanya tiga,” kata Presiden.

Dalam laporan setelah pidato, analis Bank Danamon Irman Faiz mengatakan penting untuk memastikan pengawasan yang lebih ketat tidak meningkatkan biaya transaksi bagi eksportir atau menghambat investasi swasta.

Seorang analis minyak sawit, yang meminta namanya tidak disebutkan oleh Reuters karena tidak berwenang berbicara dengan media, mengatakan para pelaku pasar ingin melihat legislasi yang sebenarnya.

“Selama belum ada regulasi tertulis atau pedoman teknis yang jelas, kami hanya bisa menebak,” kata analis tersebut.

Sumber: Reuters

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *