Negara Indonesia Tidak Hadir Bagi Sastrawan
Oleh Nia Samsihono
Indonesia menghadapi kritik bahwa negara belum sepenuhnya hadir bagi sastrawan dan pelaku seni. Hal ini merujuk pada kurangnya dukungan, perlindungan, dan apresiasi yang diberikan pemerintah terhadap karya sastra dan kehidupan para sastrawan. Beberapa bukti ketidakhadiran negara dapat terlihat dari minimnya perhatian terhadap kesejahteraan, kebebasan berekspresi, hingga kurangnya ruang untuk mengembangkan dan mempromosikan sastra sebagai bagian penting dari identitas budaya bangsa.
Bukti ketidakhadiran negara bagi sastrawan di Indonesia dapat dilihat dari minimnya anggaran untuk sastra dan kesenian. Dukungan finansial bagi proyek sastra, seperti penerbitan karya sastrawan, festival sastra, atau program residensi, cenderung minim. Bantuan dana dari pemerintah seringkali terbatas pada acara berskala besar atau hanya pada kategori seni tertentu, seperti seni rupa atau tari. Padahal, sastra memerlukan dukungan yang konsisten dan terus-menerus untuk bisa berkembang. Selain hal itu, banyak sastrawan kesulitan menemukan ruang yang layak untuk memublikasikan karyanya.
Di Indonesia, majalah atau penerbit sastra yang mendukung karya-karya baru cenderung minim. Selain itu, ruang-ruang publik seperti perpustakaan dan pusat kebudayaan masih belum dikelola optimal untuk mengadakan acara yang bisa mendekatkan sastra dengan masyarakat luas. Kasus penyensoran atau pelarangan terhadap karya sastra tertentu yang dinilai “berbahaya” atau “mengancam” telah terjadi di Indonesia. Hal ini membatasi kebebasan sastrawan dalam berekspresi dan berpotensi memengaruhi keberanian para sastrawan dalam mengungkapkan gagasan atau kritik sosial.
Profesi sastrawan sering kali tidak mendapatkan jaminan sosial yang memadai, seperti asuransi kesehatan atau jaminan hari tua. Banyak sastrawan harus bekerja di luar bidang sastra untuk mencukupi kebutuhan hidup, sehingga mengurangi waktu mereka untuk fokus pada karya sastra.
Kita dapat melihat contoh negara yang hadir bagi sastrawan, misalnya negara Prancis. Negara ini adalah salah satu negara yang dikenal mendukung sastrawan dan karyanya. Pemerintah Prancis memberikan hibah dan beasiswa bagi penulis yang sedang mengerjakan karya sastra. Selain itu, ada banyak program residensi yang disediakan pemerintah untuk sastrawan, baik dalam negeri maupun asing, agar mereka dapat mengembangkan karya sastra dengan lebih fokus. Prancis juga memiliki jaringan perpustakaan nasional yang luas serta mempromosikan budaya baca melalui berbagai program yang dibiayai negara. Dukungan seperti ini memberikan ruang dan kesempatan bagi sastrawan untuk terus berkarya.
Salah satu penulis Prancis yang mendapat perhatian besar dari negaranya adalah Albert Camus. Camus bukan hanya seorang novelis, tetapi juga seorang filsuf, jurnalis, dan pemenang Nobel Sastra pada tahun 1957. Dalam karya-karyanya, seperti L’Étranger (Orang Asing) dan La Peste (Sampar), Camus mengangkat tema-tema eksistensialisme dan absurdisme, yang mengajak pembaca mempertanyakan makna hidup dan tanggung jawab individu di dunia yang seringkali tampak tak masuk akal.
Karya-karya Camus sangat dipuji di Prancis, bahkan hingga kini. Pemerintah Prancis merayakan 100 tahun kelahirannya pada tahun 2013, dengan berbagai pameran dan diskusi di seluruh negeri. Karya dan ide-idenya dihargai sebagai bagian dari warisan budaya Prancis yang kaya.
Selain Prancis, negara-negara lain juga memberikan perhatian besar kepada penulis nasional mereka. Misalnya, Rusia sangat menghormati Fyodor Dostoyevsky dan Leo Tolstoy, dua penulis besar yang dianggap mewakili jiwa masyarakat Rusia.
Begitu juga di Amerika Serikat, karya-karya Mark Twain dan Ernest Hemingway dianggap sebagai bagian penting dari identitas nasional. Negara-negara ini, seperti Prancis, memberikan penghargaan khusus kepada penulis mereka sebagai bagian dari kekayaan budaya dan sejarah yang layak untuk dikenang dan dipelajari.
Jepang juga sangat menghormati para penulis dan sastrawan nasionalnya. Salah satu penulis Jepang yang terkenal dan dihormati hingga kini adalah Yukio Mishima. Mishima dikenal karena karya-karyanya yang indah namun sering kali penuh tragedi, seperti Kinkaku-ji (Paviliun Emas) dan Hōjō no Umi (Lautan Kesuburan). Mishima membahas tema-tema kompleks tentang nasionalisme, tradisi, dan kehormatan, yang membuat karyanya begitu mengakar di masyarakat Jepang. Pemerintah Jepang bahkan mengadakan acara khusus untuk mengenang karyanya.
Selain Mishima, Jepang juga sangat menghargai sastrawan lainnya, seperti Natsume Sōseki, seorang penulis klasik yang dikenal lewat novel-novel seperti Kokoro dan Botchan. Sōseki dianggap sebagai ikon sastra Jepang modern, dan pemerintah Jepang menghormatinya dengan mengabadikan wajahnya di mata uang 1000 yen selama beberapa dekade.
Penulis lain yang mendapat perhatian besar adalah Haruki Murakami, yang dikenal di dunia internasional dengan karya-karya seperti Norwegian Wood dan Kafka on the Shore. Meski Murakami lebih populer di luar negeri daripada di dalam Jepang, reputasinya tetap membuat pemerintah dan masyarakat Jepang mengakui pengaruhnya dalam memperkenalkan sastra Jepang ke kancah internasional
Apa akibat negara tidak hadir bagi sastrawan Indonesia? Tentu saja ketidakhadiran negara bisa mengakibatkan stagnasi dalam perkembangan sastra nasional. Minimnya dukungan terhadap sastrawan dapat membuat mereka kehilangan semangat berkarya atau bahkan beralih profesi. Pada akhirnya, sastra sebagai salah satu bentuk ekspresi budaya akan sulit berkembang dan berperan dalam pembentukan karakter bangsa. Karya sastra yang menjadi cermin bagi masyarakat dapat hilang dan memengaruhi daya kritis masyarakat, yang menjadi lebih lemah tanpa narasi yang mendalam dari para sastrawan.
Lihatlah di musim Pilkada ini, adakah calon pemimpin yang bicara tentang bagaimana mengembangkan, melestarikan, menyebarkan sastra dan menghargai para sastrawan di wilayahnya di negara Indonesia ini?
(Nia Samsihono adalah Ketua Umum Satupena DKI Jakarta)

