Pemerintahan Extravaganza Prabowo-Gibran
Oleh: Agus Widyanto
TAKJUB, kagum, surpirese, dan Wow. Itu yang saya rasakan tatkala menyaksikan rangkaian peristiwa politik nasional sejak dilakukannya pelantikan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Gedung MPR sampai hari-hari ini. Ketakjuban pertama bukan pada pidato Presiden Prabowo pasca-pelantikan yang lebih dari setengah jam, tapi tentang pendamping beliau saat pengambilan sumpah.
Biasanya ajudan yang mendampingi kepala negara kita adalah perwira TNI atau Polri berpangkat kolonel atau komisaris besar jika dia polisi. Tapi, seperti kita lihat bersama, ajudan yang membawa naskah sumpah yang dibacakan adalah seorang perwira berpangkat mayor dengan tanda satu melati di pundaknya. Namanya, Mayor (Inf) Teddy Indra Wijaya; sosok yang sangat popular di media sosial. Kita layak terkejut melihat formasi yang tidak biasa itu.
Dalam momentum selanjutnya, terlihat pengambilan sumpah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang didampingi ajudan perwira TNI AD berpangkat Letnan Kolonel (Letkol) Infantri bernama Devy Kristiono. Letkol Devy yang saat ini memiliki pangkat dua melati di pundaknya adalah mantan Komandan Kodim 0735/Surakarta yang wilayah tugasnya sama dengan Gibran saat menjadi Walikota.
Kekaguman berlanjut melihat mobil yang digunakan Presiden Prabowo Subianto dari Gedung MPR/DPR RI ke Istana Negara. Mobil bercat putih bernomorkan “Indonesia 1” yang dipakai adalah SUV (Sport Utility Vehicle), mobil penumpang yang dirancang untuk dapat melewati berbagai medan, mulai dari jalan bergelombang hingga medan yang sulit. Nama resminya mobil MV3 Garuda Limousine, karya anak bangsa yang ada di Pindad ini memang kendaraan yang berkelas. Tampilannya eksklusif dan maskulin, anti-peluru, panjang sekitar 5,05 meter, lebar 2,06 meter, tinggi 1,87 meter, serta dilengkapi desain long wheelbase yang nyaman dan lega; transmisinya automatic dengan 8 percepatan, dan mampu melaju sampai 100 km/jam.
Semula, banyak yang menduga Presiden Prabowo Subianto akan mengendarai kuda, karena beliau memang penunggang kuda yang hebat. Jumlah koleksi kudanya di Hambalang pun cukup banyak dan bagus-bagus. Eh, ternyata Presiden Prabowo memilih naik Garuda Limousine dan membuka sunroof untuk bisa menyapa dan menyambut apresiasi masyarakat di sepanjang perjalanan.
Belum sempat menarik nafas untuk jeda, kita kembali dibuat terpana melihat Presiden ke-8 kita mengantar langsung Presiden ke-7 sampai ke Bandara Halim Perdanakusuma. Presiden ke-7, Joko Widodo memilih pulang ke Solo usai serah-terima di Istana Negara, menggunakan pesawat TNI AU. Presiden Prabowo memerintahkan Panglima TNI Jenderal Agus Subianto dan Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo mendampingi Presiden ke-7 sampai ke Kota Solo. Keputusan menugaskan dua petinggi itu, mungkin karena keduanya bisa merepresentasikan sosok Prabowo Subianto. Kan, nama Kapolri ada nama Prabowo-nya dan nama Panglima TNI ada Subianto-nya. Mungkin saja itu bisa dianggap mewakili Prabowo Subianto.
Kejutan yang paling terasa terjadi saat Presiden Prabowo Subianto mengumumkan jumlah personel kabinet yang terdiri dari menteri, wakil Menteri, kepala badan, penasihat, dan utusan khusus yang jumlahnya lebih dari seratus orang. Ada media yang menyebut jumlahnya 135 orang, ada yang memberitakan jumlahnya 136 orang. Jumlahnya sebelas-dua belas dengan Kabinet Dwikora II yang diumumkan Presiden Soekarno pada 12 Februari 1966 yang jumlahnya 132 pejabat tinggi.
Presiden Prabowo menamai pemerintahan yang dipimpinnya dengan nama “Kabinet Merah Putih”. Sontak setelah diumumkan beberapa komentar bermunculan. Ada yang menyebutnya sebagai kabinet gemoy, gemuk, yang memberi peluang terjadinya tumpang-tindih, boros, tidak efisien, dan berbiaya tinggi. Namun ada yang optimis dengan formasi itu Kabinet Merah Putih bisa bekerja secara efektif dan bergerak cepat.
Yang terkini kita dikejutkan dengan Program Retreat Kabinet Merah Putih di Kampus Akademi Militer Magelang Jawa Tengah. Proses keberangkatan ke Magelang dari Bandara Halim Perdanakusuma saja sudah menghebohkan. Para Menteri naik pesawat C-130J Super Hercules milik TNI AU ke Bandara Adi Sucipto Yogyakarta; supaya mendapat pengalaman yang sama para Wakil Menteri akan naik pesawat Hercules saat kembali ke Jakarta.
Di Magelang tempat para calon pemimpin tentara nasional digembleng, para menteri dan wakil menteri serta pejabat setingkat menteri dari Jumat (25/10) sampai Minggu (27/10/2024) akan menjalani kehidupan yang penuh disiplin. Mereka harus menjalani kegiatan dengan tertib dan harus tidur di alam terbuka. Panitia menyediakan tenda glamping (glamour camping) di Borobudur International Golf & Country Club sebagai tempat menginap para pejabat tinggi negara selama retreat.
Program retreat jelas bukan upaya militerisasi, karena banyak anggota kabinet dan pejabat setingkat menteri yang berasal dari kalangan militer dan kepolisian sehingga berada di pusat pendidikan dan kesatrian bukan hal baru. Mungkin bagi para pejabat yang berasal dari kalangan sipil, berada di Kawah Candradimuka Magelang yang dingin adalah sesuatu yang baru. Patut diperkirakan, retreat selama tiga hari itu untuk membangun keakraban, untuk lebih saling mengenal, dan membangun kekompakan yang maksimal.
Caranya dengan kegiatan secara bersama, mulai dari tiupan terompet sebagai tanda harus bangun pagi; olahraga pagi bersama, Latihan menyatukan langkah dengan baris-berbaris, dan memakai kostum yang sama untuk semuanya: seragam komponen cadangan (Komcad) loreng-loreng.
Saat pemberangkatan saja sudah banyak cerita yang meluncur ke publik. Jalannya retreat pasti akan banyak kisah menarik yang bakal dikisahkan ke masyarakat. Apalagi di program itu ada Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni yang dikenal sebagai selebritis dan punya channel youtube dengan jutaan penonton. Pasti kegiatan di Akmil Magelang akan menjadi perbincangan orang banyak.
Rangkaian kegiatan Kabinet Merah Putih di awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tentu saja memukau perhatian publik. Masalah politik yang dirasakan sering menjengkelkan, membuat tegang, mendorong situasi gampang marah, dan selalu memancing perdebatan; kini hadir dengan pesona baru. Politik pemerintahan kini hadir dalam kemasan yang menarik ditonton dan menghibur. Mungkin ini yang disebut ‘Politainment’ (Politics dan Entertainment), di mana para pejabat dan petinggi politik berlomba mendapatkan atensi untuk dianggap relevan dan dekat dengan masyarakat. Bisa juga disematkan sebutan political show, atau pertujukan politik.
Silakan beri sebutan yang menurut Anda pas. Meski begitu, saya lebih suka menyebutnya sebagai pemerintahan yang extravaganza. Alasannya, sejak awal dilantik, prosesi, kegiatan, dan kehadirannya terlihat spektakuler, mewah dan sering membuat surprise. Kata extravaganza (Bhs Indonesia ekstravaganza) oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai pertunjukan atau hiburan luar biasa (spektakuler).
Rasanya kita harus siap beralih dari tontonan politik yang semula sederhana, banyak blusukan, bagi-bagi kaos dan sembako, juga bagi-bagi sepeda; ke politik yang wow, extravaganza dan mengejutkan. Semoga hiburan politik hanya sekedar bagian kecil membahagiakan rakyat tanpa mengabaikan tujuan akhir “Terwujudnya Masyarakat yang Sejahtera, Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila”.
(Agus Widyanto, wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa)

