Teatrikal Perang Lasem III
Pemerhati sejarah dan budaya Lasem menggelar Teatrikal Perang Lasem III di Alun-alun Lasem, Kabupaten Rembang pada Jumat (7/8).(Dok. Rembang Bergerak)

Teatrikal Perang Lasem III, Angkat Warisan Budaya Adiluhung dalam Keberagaman

REMBANG[BahteraJateng]– Jejaring pemerhati sejarah dan budaya Lasem menggelar Teatrikal Perang Lasem III di Alun-alun Lasem, Kabupaten Rembang pada Jumat (7/8). Pementasan tersebut menjadi upaya merekonstruksi sejarah perjuangan sekaligus mengangkat nilai keberagaman yang menjadi bagian dari budaya Lasem.

Teatrikal yang digelar selepas salat Jumat itu mengisahkan perlawanan masyarakat Lasem terhadap VOC pada masa Adipati Tejakusuma III, di penghujung era Amangkurat I, serta Perang Lasem II yang berlangsung bersamaan dengan Perang Kuning pada 1741-1743.


Tiga tokoh penting dalam sejarah Lasem ditampilkan dalam pementasan tersebut. KH Ali Badawi atau Ki Ageng Jayatirta diperankan Hengky, Den Panji Margono atau Pangeran Talbaya diperankan Chollyz Boclas, sedangkan Tumenggung Wedyaningrat atau Oey Eng Kiat diperankan Mohammad Al Mahdi atau Koh Lam.

Pemerhati sejarah Lasem, Achmad Rif’an, mengatakan ketiga tokoh tersebut merepresentasikan keberagaman masyarakat Lasem. Mereka menggambarkan unsur santri, masyarakat pribumi dengan beragam latar keyakinan, hingga komunitas Tionghoa.


“Ini menunjukkan Lasem toleransi tinggi dengan latar belakang ekonomi dan strata sosial beragam,” kata Rif’an.

Menurut dia, keberagaman tersebut juga tercermin dari profesi masyarakat yang terlibat dalam kehidupan Lasem, mulai dari petani, saudagar, pembatik, pamong praja, nelayan hingga pedagang.

Rif’an menilai Alun-alun Lasem menjadi ruang yang merepresentasikan persatuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bersama. Semangat perjuangan para tokoh masa lalu dinilai relevan untuk diteladani sebagai bentuk patriotisme dan kecintaan terhadap tanah air.

“Sumpah setia hidup mati untuk keselamatan negeri wutah rah, tanah air saat itu belum bernama Indonesia. Sikap ksatria dan patriotisme harus kita teladani,” ujarnya.

Pementasan tersebut disutradarai budayawan senior Yon Suprayoga dan dilengkapi pembacaan puisi oleh Galih Pandu Adi.

Rangkaian kegiatan juga menegaskan keterkaitan sejarah Lasem dengan perjuangan melawan VOC, termasuk Perang Sabil dan penghancuran Garnisun VOC.

Melalui teatrikal tersebut, para pemerhati sejarah dan budaya berharap nilai toleransi, persatuan, dan keberagaman yang telah tumbuh dalam sejarah Lasem dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Nilai-nilai tersebut dinilai menjadi bagian dari warisan budaya adiluhung Lasem yang tidak hanya penting untuk dipahami sebagai sejarah masa lalu, tetapi juga menjadi pijakan dalam menjaga kehidupan masyarakat yang beragam.

Dalam kesempatan itu, para sejarawan serta budayawan sepakat memaafkan dan menerima klarifikasi Gus Ubaid terkait kesalahan akademis di YouTube. Mereka berharap ke depan tidak ada lagi polemik dan setiap pernyataan sejarah harus berdasar literatur.

“Dengan kesejukan hati, weningnya pikir, dan logika tepat kita sampaikan kebenaran secara santun dan adil,” pungkas Rif’an.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *