Wapres Gibran di Batang
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi mendampingi Wapres Gibran Rakabuming Raka meninjau penanganan warga terdampak dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang pada Senin (28/9). (Dok. Humas Pemprov)
|

597 Warga Batang Terdampak Dugaan Keracunan MBG, Gibran Tinjau Penanganan Korban

BATANG[BahteraJateng] – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau penanganan warga terdampak dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang pada Senin (28/9). Hingga kini, tercatat 597 orang telah mendapatkan penanganan medis akibat kejadian tersebut.

Gibran didampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Bupati Batang M Faiz Kurniawan mengunjungi tiga lokasi, yakni RSUD Limpung, Puskesmas Bawang, dan SD Negeri Pasusukan.

Di RSUD Limpung, Gibran melihat langsung penanganan pasien yang terdampak dugaan keracunan MBG. Rombongan kemudian menuju Puskesmas Bawang untuk meninjau kondisi pasien yang masih menjalani perawatan.

Kepala Puskesmas Bawang, Ida Suryani, mengatakan saat kunjungan Gibran terdapat delapan pasien yang masih dirawat. Mereka terdiri atas empat orang dewasa dan empat pelajar.

“Secara keseluruhan, tercatat 597 orang mendapatkan penanganan,” kata Ida.

Para pasien tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas, RSUD Limpung, RSUD Batang, hingga beberapa puskesmas rawat inap lainnya di Kabupaten Batang. Usia pasien yang mendapatkan penanganan mulai dari balita hingga lanjut usia.

Keluhan yang dialami warga antara lain mual, sakit perut, muntah, diare, serta panas dingin. Hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut belum diketahui.

Ida mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru dapat diketahui sekitar 20 hari. Sambil menunggu hasil tersebut, pihak puskesmas terus berkoordinasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama terkait sanitasi dan higienitas penyediaan makanan MBG.Gubernur Ahmad Luthfi

Setelah dari Puskesmas Bawang, Gibran dan Ahmad Luthfi melanjutkan kunjungan ke SD Negeri Pasusukan. Di sekolah tersebut, mereka menemui siswa dan wali murid yang turut terdampak.

Berdasarkan data sekolah, terdapat 26 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 yang mengalami keluhan. Selain siswa, tujuh orang lainnya turut terdampak, termasuk kepala sekolah.

Kepala SDN Pasusukan Maryana mengatakan gejala yang dialami siswa tidak muncul secara bersamaan. Makanan MBG tiba sekitar pukul 08.30 dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 09.00. Keluhan mulai dirasakan beberapa jam kemudian hingga ada yang baru mengalami gejala pada hari berikutnya.

“Kalau untuk anak-anak beragam, dari mulai malam. Ada juga yang esok harinya. Enggak sama,” ujarnya.

Saat ini seluruh 26 siswa telah pulang ke rumah, sementara satu guru masih menjalani perawatan di RSUD Limpung. Keluhan yang paling banyak dirasakan korban adalah mual dan diare.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah wali murid dan siswa berharap program MBG tidak dihentikan, tetapi diperbaiki agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Gibran menyampaikan perlunya perbaikan tata kelola SPPG dan menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan evaluasi agar pelaksanaan MBG ke depan lebih aman.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *