Tantangan Dirikan Komunitas Difabel Hasbi Hingga Temukan Bakat dan Prestasi
SEMARANG[BahteraJateng] – Mendirikan komunitas difabel bukan perkara mudah. Selain membutuhkan komitmen jangka panjang, juga diperlukan pendekatan intensif kepada orang tua agar anak penyandang disabilitas mau berinteraksi dan mengembangkan potensi diri.
Hal itu disampaikan Pendiri Komunitas Difabel Harsa Abipraya (Hasbi) Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Tutik Wahyuningtyas, saat pertemuan komunitas di Balai Kelurahan Sendangguwo pada Sabtu (17/1) sore.
Menurut Tutik, setiap anak memiliki bakat masing-masing, termasuk anak dengan kebutuhan khusus. Namun, proses menggali potensi tersebut harus dimulai dari pendekatan kepada keluarga.
“Kita pertama pendekatan dengan orang tuanya. Setelah mengikuti berbagai kegiatan ternyata anak-anak ini punya bakat tersendiri,” ujarnya.
Komunitas Hasbi berdiri sejak 29 September 2021 dan rutin menggelar Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) bagi difabel setiap Jumat di akhir bulan. Kegiatan tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan serta pengembangan keterampilan.
Tutik mengungkapkan, proses pendirian komunitas memerlukan waktu sekitar 10 bulan untuk sosialisasi secara intens, baik dari rumah ke rumah maupun melalui forum Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). Tantangan terberat adalah menghadapi keluarga yang masih menutup diri.
“Masih ada orang tua yang malu dan tidak mengizinkan anaknya berinteraksi. Tapi dengan niat baik, perlahan bisa terbuka,” katanya.
Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Tembalang, Dwi Supratiwi, juga mengakui adanya kasus anak difabel yang disembunyikan selama bertahun-tahun. Namun, setelah melihat aktivitas komunitas, sebagian orang tua mulai memberi izin anaknya mengikuti kegiatan.
Dalam kegiatan tersebut, PSM Sendangguwo menggandeng Komunitas Kinasih Mataram dan Komunitas Kecil Petelan. Lebih dari 50 anak difabel mengikuti kegiatan bernyanyi dan bermain bersama.
Komunitas Hasbi juga memiliki produk unggulan berupa telur asin yang diproduksi oleh para penyandang disabilitas, serta kegiatan pelatihan motorik seperti bermain angklung.
Salah satu orang tua, Ani Riwayati, mengaku bangga karena anaknya yang mengalami gangguan pendengaran pernah meraih juara tiga turnamen bulu tangkis khusus difabel di Magelang.
“Alhamdulillah, keterbatasan tidak menghalangi prestasi anak,” ujarnya.

