Petugas ATCS Dishub Kota Semarang
Petugas ATCS Dishub Kota Semarang, tengah memantau pergerakan pengendara melalui layar monitor.(Foto. BahteraJateng/day)

Di Balik Layar Petugas ATCS Tegur Pengendara yang Melanggar Marka

SEMARANG[BahteraJateng] – Teguran jenaka meluncur dari petugas Area Traffic Control System (ATCS) Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang melalui pengeras suara di salah satu traffic light persimpangan Kota Semarang.

“Mas, naik motor itu pakainya helm, bukan bawa pancing. Hayo, ini mau gimana? Pancingnya ditukar helm apa?”

Teguran itu berasal dari petugas operator ATCS Dinas Dishub Kota Semarang yang tengah memantau pergerakan pengendara melalui layar monitor.

Petugas ATCS mengamati setiap pergerakan kendaraan, dari pengendara yang melanggar marka jalan hingga mereka yang tidak mengenakan helm.

Ketika menemukan pelanggaran, petugas dapat langsung menyalakan mikrofon dan memberikan teguran melalui pengeras suara yang terpasang di traffic light.

Salah satu petugas operator yang dikenal kerap melontarkan teguran jenaka ialah Visna. Selama delapan tahun menjalankan pekerjaan tersebut, ia menyebut Simpang Tlogosari sebagai salah satu titik yang paling banyak ditemukan pelanggaran.

“Yang pasti titik yang banyak pelanggar itu Simpang Tlogosari. Hampir tiap menit, tiap detik pasti berubah-ubah pelanggar. Dari dulu sampai sekarang tidak berubah,” ujar Visna saat ditemui BahteraJateng di kantor Dishub Kota Semarang pada Senin (10/8).

Selain Tlogosari, pelanggaran juga cukup sering ditemukan di Simpang Indraprasta dan sejumlah ruas jalan besar yang menjadi akses menuju permukiman.

Menurut Visna, masih ada pengendara yang menganggap helm tidak terlalu diperlukan ketika bepergian dalam jarak dekat.

Untuk menegur mereka, Visna tidak memiliki naskah khusus. Kalimat yang disampaikan melalui pengeras suara keluar secara spontan, menyesuaikan situasi yang dilihatnya dari layar.

“Penyampaian pesan untuk menegur itu pakai bahasa sehari-hari, secara spontanitas saja. Akhir-akhir ini yang saya lihat pengendara yang tidak memakai helm itu ibu-ibu ketika antar-jemput anak sekolah,” ungkapnya.

Teguran yang disampaikan dari balik layar itu pun tak selalu mendapat respons positif. Visna mengaku pernah mendapat omelan balik dari pengendara yang ditegurnya di Simpang Tlogosari.

“Saya pernah dimarahin balik dilihat dari mimik wajahnya. Jadi di Simpang Tlogosari itu ketika memberikan imbauan, ibu-ibu itu ngedumel nggak karuan, malah lebih galak dari saya,” ujarnya seraya tertawa.

Di sisi lain, Kepala Dishub Kota Semarang Danang Kurniawan mengatakan penggunaan ATCS sebagai sarana pemantauan sekaligus pemberian imbauan kepada pengendara sebenarnya telah berlangsung cukup lama.

Menurutnya, pendekatan jenaka sengaja digunakan agar masyarakat tidak merasa jenuh ketika menerima teguran.

“Kami berusaha menggugah kesadaran untuk tertib berlalu lintas. Salah satunya dengan pendekatan yang jenaka atau hal-hal yang lucu. Tapi pada prinsipnya kami ingin membangun kesadaran untuk keamanan, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas,” ujar Danang.

Danang mengatakan teguran melalui ATCS menjadi salah satu langkah awal sebelum dilakukan penindakan. Setiap kejadian yang terekam kamera juga tersimpan sebagai data yang dapat digunakan apabila dibutuhkan petugas kepolisian dalam proses penegakan hukum.

Saat ini, Kota Semarang memiliki lebih dari 100 traffic light. Sebanyak 52 titik telah terkoneksi dengan sistem ATCS dan dipantau melalui 77 layar monitor di kantor Dishub Kota Semarang.

Satu kamera bahkan dapat menyorot hingga empat sudut untuk memperluas jangkauan pemantauan.

Danang mengatakan sistem ATCS terus berkembang. Dari awalnya hanya mencakup tiga titik, kini sistem tersebut telah menjangkau lebih dari 50 titik yang tersebar di berbagai kawasan perkotaan hingga jalur nasional.

“Harapannya masyarakat lebih aware terhadap keselamatan diri sendiri atau orang lain. ATCS sebagai media pengawasan ini hanya sarana bagi Dishub maupun Satlantas yang intinya mengajak masyarakat tertib berlalu lintas,” tandas Danang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *