Kapal Induk Indonesia
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin berfoto bersama rombongan dan prajurit TNI AL saat penyambutan Kapal ITS Giuseppe Garibaldi di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/9) (Dok. Kemhan RI)

Kapal Induk Bekas dari Italia Tiba, Media Intenasional Sebut Indonesia Harus Tanggung Biaya Besar

JAKARTA[BahteraJateng] – Indonesia kini memiliki kapal induk pertama setelah kapal perang bekas Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Jumat, (18/9). Namun, di balik penerimaan kapal induk berusia 41 tahun tersebut, Indonesia harus menanggung konsekuensi biaya modernisasi dan pengoperasian yang nilainya dapat mencapai belasan triliun rupiah.

Laporan The Associated Press (AP) yang diterbitkan pada hari yang sama menyoroti besarnya biaya yang diperlukan Indonesia untuk mengoperasikan kapal tersebut serta pertanyaan mengenai kebutuhan dan kemampuan Indonesia dalam mempertahankannya.

Konsekuensi terbesar yang disoroti AP adalah kebutuhan biaya untuk mempersiapkan dan mengoperasikan kapal induk tersebut. Kementerian Keuangan Indonesia telah menyetujui pembiayaan sebesar US$450 juta atau sekitar Rp8 triliun untuk program kapal induk pada 2025.

Namun, anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin memperingatkan bahwa keseluruhan biaya dapat jauh lebih besar. Menurut dia, biaya untuk melakukan retrofit atau modernisasi kapal saja dapat mencapai Rp16 triliun, atau sekitar US$900 juta.

Dengan demikian, meskipun kapal diperoleh dari Italia, Indonesia tetap menghadapi kebutuhan anggaran besar untuk membuat kapal tersebut sesuai dengan kebutuhan operasional TNI AL. Indonesia juga harus menanggung kebutuhan personel, pemeliharaan, bahan bakar, sistem persenjataan, serta infrastruktur pendukung agar kapal dapat terus beroperasi.

AP juga mengutip pernyataan Muhammad Fauzan Malufti dari Center for Strategic and International Studies yang meminta pemerintah transparan mengenai kemampuan TNI AL mempertahankan operasional kapal. Fauzan merujuk kapal induk Thailand yang menurutnya menghabiskan sebagian besar masa operasionalnya di pelabuhan karena keterbatasan operasional dan anggaran.

AP mencatat, persoalan biaya tersebut muncul ketika Indonesia juga menghadapi tekanan fiskal yang meningkat. Pemerintah Presiden Prabowo Subianto tengah membiayai program Makan Bergizi Gratis dan sejumlah program lain yang membutuhkan anggaran besar.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengatakan kapal itu akan dimodifikasi untuk mendukung penanganan bencana, termasuk melalui pengoperasian helikopter dan drone. Kami akan memodernisasinya dan mengubahnya menjadi kapal pengangkut helikopter dan drone.

Prabowo juga menyebut kapal tersebut dapat membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan gambut yang secara berkala menyebabkan kabut asap di sejumlah wilayah Asia Tenggara.

Sementara Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali, mengatakan kapal tersebut akan lebih banyak digunakan untuk operasi militer selain perang, meski tetap dapat digunakan dalam misi tempur jika diperlukan.

Ali mengatakan kapal tersebut masih dapat digunakan TNI AL selama 15 hingga 20 tahun dan mampu menampung sedikitnya 14 helikopter, tergantung pada ukurannya. Kapal akan masuk ke jajaran armada TNI AL dengan nama KRI Sriwijaya.(day)
Sumber: AP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *