KKA Jateng Verifikasi Lomba Wana Lestari 2026
Kader Konservasi Alam (KKA) Jawa Tengah, Achmad Rif'an, menjalani verifikasi lapangan dalam Lomba Wana Lestari 2026 di kawasan Bukit Cendana, Petak 28C BKPH Gunung Lasem, Desa Candimulyo, Kecamatan Sedan, Selasa (7/7).(Dok. KPH Kebonharjo)

Konservasi Bukit Cendana, KKA Jateng Jalani Verifikasi Lomba Wana Lestari 2026

REMBANG[BahteraJateng] – Kader Konservasi Alam (KKA) Jawa Tengah, Achmad Rif’an, menjalani verifikasi lapangan dalam Lomba Wana Lestari 2026 di kawasan Bukit Cendana, Petak 28C BKPH Gunung Lasem, Desa Candimulyo, Kecamatan Sedan pada Selasa (7/7/2026).

Verifikasi dipimpin Sri Mulyani dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan. Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan DLHK Jawa Tengah, CDK Wilayah I Jawa Tengah, BKSDA RKW Blora, DLH Rembang, Perhutani KPH Kebonharjo, serta Karang Taruna setempat.


Dalam pemaparannya, Rif’an menjelaskan Bukit Cendana merupakan Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) seluas 40,8 hektare. Kawasan tersebut dinamai Bukit Cendana karena menjadi habitat pohon cendana wangi yang dilindungi.

Ia menyampaikan, bersama Perhutani dan masyarakat, pihaknya mengembangkan berbagai upaya konservasi, di antaranya pembangunan Cafe Gunung sebagai kawasan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL), pelestarian mata air, serta pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan ekowisata.


Upaya tersebut mulai memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Kepala Desa Candimulyo, Zaenuri, mengatakan pengkayaan tanaman multipurpose tree species (MPTS) dan tanaman sahabat air membuat telaga di bawah kawasan kembali muncul sehingga warga tidak lagi mengalami krisis air saat musim kemarau. Selain itu, jambu air kini menjadi salah satu komoditas unggulan desa.

Asper/KBKPH Gunung Lasem, Siswanto, menilai aksi konservasi yang dilakukan KKA telah memberikan manfaat nyata, mulai dari pemulihan ekologi, terjaganya fungsi hidrologi, meningkatnya ekonomi masyarakat melalui ekowisata, hingga tumbuhnya kepedulian warga terhadap kelestarian hutan.

Ketua tim verifikasi, Sri Mulyani, mengapresiasi berbagai aksi konservasi yang telah dilakukan. Menurutnya, penilaian Lomba Wana Lestari tidak hanya melihat kelengkapan administrasi, tetapi juga dampak nyata yang dirasakan masyarakat dan lingkungan.

“Yang kami cari bukan hanya laporan, tetapi aksi nyata. Beliau bukan hanya konservasionis, tetapi juga guru. Perlu lebih banyak sosok seperti ini agar ekosistem tetap lestari dan ekonomi masyarakat ikut berkembang,” ujarnya.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *