UNEN-UNEN: Ketika Setiap Peristiwa Punya Suara
REMBANG[BahteraJateng] – Unen-unen adalah pedoman moral, etika, dan spiritual masyarakat Jawa kuno untuk menata perilaku hidup agar selaras dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta.
Hal itu disampaikan Achmad Rif’an usai tampil bersama Saka Uni Rembang dan Unen-unen Rengel di Pendopo Eks Kawedanan Rembang pada Sabtu (26/9).
“Bunyi adalah representasi peristiwa, sedangkan unen-unen adalah fenomena. Setiap peristiwa ada suaranya,” ujar Rif’an kepada BahteraJateng.
Menurutnya, kata demi kata, pepatah petitih, gerakan, tarian, sastra, pahatan, bahkan makian adalah bebunyian. Mendengarkannya tidak hanya dengan telinga, tapi juga hati.
Ia mengajak penonton memahami suara hati orang kecil dan teriakan kaum pinggiran. Jeritan kaum miskin, desir angin, gema goa vertikal, suara palung laut, perut keroncongan, hingga guntur yang menggelegar.
“Susunan paribasan, bebasan, saloka dan segala bunyi adalah kristalisasi kebijaksanaan leluhur,” katanya.
Ia menggambarkan air yang bergemericik dari sumber mata air, mengalir lewat sungai ke laut, menguap ke angkasa, lalu turun lagi ke bumi sebagai siklus kehidupan.
Unen-unen adalah ungkapan yang mengkonstruksi pendidikan moral dan pembentukan karakter. Nasihat ‘watawa shaubil haq, watawa shaubis shabr’ adalah harmoni kehidupan yang menjaga keindahan dan ritme tatanan dunia.
Malam itu, gesekan, tiupan, pukulan dan petikan di bawah bulan purnama terdengar tanpa nada, seperti suara satwa atau patahan pohon, menjadi nada syahdu. Namun, semerdu apapun, jika telinga dan hati tertutup, tak akan terdengar.
“Setiap peristiwa ada unen-unen. Unen-unen adalah peristiwa yang harus kita pelajari,” pungkasnya.(day)

