Panas, Debat Mantan Aktivis Budiman Sudjatmiko dengan Mahasiswa saat Diskusi di Semarang
SEMARANG[BahteraJateng] – Dialog Kritis Organisasi Ekstra Kampus bertajuk “Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini” yang digelar oleh Kafka Forum Semarang pada Jumat (12/6) sempat memanas. Kehadiran pembicara utama, Budiman Sudjatmiko, salah satu aktivis melawan orde baru yang kini menjabat Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) mendapat sorotan keras dari kalangan mahasiswa.
Saat sesi tanya jawab dibuka, seorang mahasiswa yang mengaku pernah ditangkap dalam aksi Hari Buruh Internasional di Semarang dan menjalani hukuman selama tiga bulan menilai Budiman telah kehilangan sikap kritisnya terhadap pemerintah.
Terlebih saat mantan ketua umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu sekarang sudah menjadi bagian dari pejabat pemerintah, dan dinilai tak memberikan solusi yang menyentuh akar persoalan rakyat. Pernyataan mahasiswa ini memantik debat panas antara keduanya hingga sang mahasiswa pergi meninggalkan ruangan.
Salah satu peserta diskusi lainnya, Ramanda Bima Prayuda, menyatakan bahwa dirinya lebih mengagumi sosok Budiman Sudjatmiko ketika berdiri melawan rezim orde baru, dibanding posisinya hari ini yang berada di dalam lingkar kekuasaan.
Bima yang juga ketua DPC PMKRI Cabang Semarang itu mempertanyakan, mungkinkah seorang aktivis tetap kritis ketika ia sendiri telah menjadi bagian dari kekuasaan.
“Apakah Bung Budiman masuk ke dalam kekuasaan untuk menjinakkan kekuasaan dari dalam, atau justru kekuasaan yang telah berhasil menjinakkan Bung Budiman?,” ucapnya saat sesi tanya jawab.
Namun respons yang diberikan Budiman saat menjawab pertanyaan justru menuai kekecewaan. Bima menilai jawaban tersebut sama sekali tidak menyentuh inti keresahan yang ia sampaikan.
“Bung Budiman terlalu mendaki-daki dan tidak menunjukkan hal konkret yang mendasar dirasakan oleh rakyat Indonesia,” ujarnya.
Meski demikian PMKRI tetap menyerahkan kajian kritis Lima Aspirasi Rakyat (LIBAS) terhadap Pemerintah Prabowo-Gibran kepada Budiman di akhir acara.
Lima tuntutan itu yaitu penurunan harga BBM non-subsidi dan stabilisasi rupiah; penghentian program boros yang rawan KKN; penciptaan lapangan kerja dan kemudahan usaha rakyat; pengembalian TNI dan Polri pada fungsi utamanya; serta reformasi pemilu dan sistem politik secara menyeluruh.
Saat menjawab pertanyaan peserta diskusi, Budiman yang juga mantan anggota DPR RI dari PDIP itu menyatakan kritik terhadap pemerintah penting dilakukan, tetapi harus dibarengi kemampuan menawarkan gagasan dan solusi.
“Negara tidak bisa dibangun hanya dengan kemarahan. Negara dibangun dengan gagasan, dengan argumentasi, dan dengan kemampuan menghadirkan jalan keluar,” ucapnya.
Dalam paparannya, ia lebih banyak membahas soal tantangan pembangunan nasional, masa depan lapangan kerja, perkembangan kecerdasan buatan, dan kesiapan Indonesia menghadapi perubahan global menuju 2045. (day)

