Aksi Greenpeace Indonesia
Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan dua spanduk raksasa dari puncak Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada Selasa (20/10). (Dok. Greenpeace Indonesia)

Aksi Protes Warga di Indonesia Soal Karhutla dan Kabut Asap Jadi Pemberitaan Media Internasional

JAKARTA[BahteraJateng] – Gelombang protes berlangsung di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Pekanbaru, dan Makassar pada Selasa (20/10). Aksi yang digerakkan mahasiswa itu menjadi bentuk ketidakpuasan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, bertepatan dengan dua tahun masa kepemimpinannya.

Mengutip laporan AFP yang diterbitkan France 24, para demonstran mempersoalkan lambannya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dugaan ketidakmampuan pemerintah mengatasi krisis yang melanda sejumlah wilayah di Asia Tenggara tersebut. Mereka juga menyuarakan kritik terhadap dugaan korupsi dan buruknya tata kelola pemerintahan.

Kebakaran yang melanda wilayah Sumatra dan Kalimantan sejak Juli 2026 menjadi salah satu pemicu utama kemarahan warga. Asap dari kebakaran tersebut menyelimuti sejumlah kawasan dan memperburuk kualitas udara hingga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Dampak krisis karhutla juga dirasakan warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Seorang pedagang minuman kaki lima berusia 40 tahun bernama Melsi mengungkapkan kesulitan ekonomi yang dialaminya akibat kabut asap.

“Kabut asap ini sangat buruk. Penjualan sepi. Harga terus naik, tetapi tidak ada pemasukan,” kata Melsi kepada AFP, sebagaimana dikutip France 24.

Melsi menangis ketika menceritakan kondisinya. Ia menggambarkan keterbatasan masyarakat kecil dalam menghadapi situasi tersebut.

“Apa yang bisa kami lakukan? Kami ini rakyat kecil, kami tidak bisa melakukan apa-apa selain berharap pemerintah akan menangani masalah ini,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Sifra, ibu rumah tangga berusia 29 tahun yang tinggal di Palangkaraya. Ia mengatakan suami dan kedua anaknya telah mengalami batuk selama sebulan. Bahkan, menurut Sifra, asap tetap masuk ke dalam rumah. Ia juga mengeluhkan kondisi tubuh yang terasa sakit serta lebih mudah terserang batuk dan pilek sejak kabut asap menyelimuti wilayah tersebut.

Sifra mendesak pemerintah meningkatkan upaya penanganan kebakaran. Desakan itu sejalan dengan tuntutan puluhan warga yang menggelar demonstrasi di Palangkaraya pada Senin (19/10) agar pemerintah menetapkan status darurat.

Di tengah meningkatnya kritik publik, pemerintah menyatakan telah mengerahkan personel dan peralatan untuk memadamkan kebakaran di berbagai daerah. Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Panjaitan, mengatakan lebih dari 60.000 petugas pemadam kebakaran, termasuk relawan, dikerahkan dalam upaya penanganan kebakaran di seluruh Indonesia.

Menurut Berton, sebanyak 49 pesawat tersedia untuk mendukung operasi pengeboman air (water bombing) dan modifikasi cuaca melalui penyemaian awan (cloud seeding). Namun, sejumlah pesawat sempat tidak dapat beroperasi akibat kondisi kabut asap.

Sementara itu, pemantau kebakaran Nusantara Atlas melaporkan bahwa kebakaran di Indonesia telah menghanguskan lebih dari 1,9 juta hektare lahan selama sembilan bulan pertama 2026. Kebakaran tahunan memang kerap terjadi selama musim kemarau di Indonesia.

Namun, laporan AFP menyebutkan kebakaran tahun ini jauh lebih parah, salah satunya dipengaruhi fenomena El Niño yang memperburuk kondisi panas dan kekeringan.

Sumber: AFP, France 24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *