Puluhan Ambulans Siaga di SMAN 2 Kudus, Ada Apa ?
KUDUS[BahteraJateng] – Lebih dari 20 unit ambulans dari sejumlah rumah sakit dan puskesmas dikerahkan ke SMAN 2 Kudus, Jawa Tengah pada Kamis (29/1), menyusul laporan puluhan siswa mengalami keluhan kesehatan berupa mual, pusing, hingga muntah.
Sejumlah siswa SMAN 2 Kudus tampak mendapatkan pemeriksaan medis di ruang sekolah sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kudus, Mustiko Wibowo, mengatakan laporan pertama diterima sejak pagi hari. Menindaklanjuti laporan tersebut, Dinkes langsung menyiagakan tenaga kesehatan serta armada ambulans untuk penanganan cepat.
“Gejala mulai dirasakan siswa sejak pagi. Dari laporan awal, dugaan sementara mengarah pada menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi sehari sebelumnya,” ujar Mustiko.
Berdasarkan keterangan sejumlah siswa, menu MBG yang dibagikan pada Rabu (28/1) terdiri dari nasi putih, tempe, ayam, cambah, dan kuah soto. Tak lama setelah mengonsumsi menu tersebut, sebagian siswa mengeluhkan mual dan pusing yang kemudian disertai muntah. Keluhan masih berlanjut hingga Kamis pagi saat siswa kembali beraktivitas di sekolah.
Karena tidak dapat tertangani sepenuhnya di Unit Kesehatan Sekolah (UKS), pihak sekolah melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Kesehatan. Sejumlah siswa kemudian dirujuk ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.
Data sementara Dinkes Kudus mencatat, 22 siswa dirawat di RSUD Loekmono Hadi, 17 siswa di RS Satkes, 10 siswa di RS Mardi Rahayu, 10 siswa di RSI, dan 11 siswa di RS Kumala Siwi.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris yang menjenguk siswa di RSUD Loekmono Hadi menegaskan pemerintah daerah bergerak cepat dalam menangani kejadian tersebut.
“Begitu ada laporan anak-anak mengalami mulas, pusing, dan diare, semuanya langsung dibawa ke rumah sakit untuk ditangani,” katanya.
Sam’ani menyebut peristiwa ini akan menjadi bahan evaluasi agar tidak terulang. Pemkab Kudus berencana mengumpulkan para koordinator dan penanggung jawab Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk apel, briefing, dan pembekalan.
Selain itu, bersama TNI, Polri, dan Dinkes, pemerintah daerah masih melakukan penyisiran kemungkinan adanya siswa lain yang mengalami gejala serupa. Seluruh biaya perawatan siswa dipastikan ditanggung pemerintah kabupaten.
Hingga kini, Dinas Kesehatan masih menyelidiki penyebab dugaan keracunan MBG dengan mengambil sampel makanan, feses, dan komponen pendukung lainnya.(day)

