PWNU Jateng
Rais Syuriah PWNU Jateng, KH Ubaidillah Shadaqah saat menyampaikan pesan dan arahan dalam 'Apel Pelepasan Relawan NU Peduli Jateng ke Aceh' yang dilaksanakan di halaman kantor PWNU Jateng, Jl. dr. Cipto 180, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/1) sore.(Dok Rifqi)
|

Rais PWNU Jateng Lepas Relawan NU Peduli ke Aceh, Ingatkan Pentingnya Menjaga Mentalitas

SEMARANG[BahteraJateng] – Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Ubaidillah Shadaqah, melepas tim relawan NU Peduli Jateng yang akan menjalankan misi kemanusiaan ke Aceh.

Dalam kesempatan tersebut, ia mengingatkan pentingnya menjaga mentalitas dan keikhlasan selama bertugas di lokasi bencana.

Pesan itu disampaikan Kiai Ubaidillah saat Apel Pelepasan Relawan NU Peduli Jateng ke Aceh di halaman Kantor PWNU Jateng, Jalan dr. Cipto 180, Kota Semarang pada Sabtu (10/1) sore.

“Di sana harus sabar. Secara psikologis, orang yang tertimpa musibah biasanya mudah tersinggung dan enggan bekerja,” ujar Kiai Ubaid, sapaan akrabnya.

Ia menuturkan, para relawan kemungkinan akan menemui korban bencana yang hanya duduk diam sementara relawan bekerja membantu pemulihan. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan ujian keikhlasan.

“Jangan mengeluh atau menggerutu. Itu bagian dari ujian keikhlasan,” tegasnya.

Pengasuh Pesantren Al Itqoon Bugen, Tlogosari Wetan, Pedurungan, Kota Semarang itu menjelaskan, korban bencana kerap mengalami kesedihan mendalam, terutama jika rumah mereka roboh atau hancur.

“Orang yang sedang berduka tidak mungkin langsung bangkit membangun rumahnya. Di situlah peran tetangga dan relawan untuk membantu,” jelasnya.

Kiai Ubaidillah juga menekankan bahwa misi kemanusiaan merupakan bagian dari ajaran agama.

“Agama adalah agama kemanusiaan. Misi kemanusiaan adalah misi agama,” ujarnya.

Menurutnya, saat terjadi bencana, manusia harus menempatkan diri sebagai sesama makhluk Tuhan yang saling menolong.

“Ketika ada orang meminta tolong karena tercebur sumur atau terjebak kebakaran, sementara kita sedang salat fardhu, maka menolong orang tersebut harus didahulukan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa hubungan antarmanusia (hablum minannas) tidak bisa dipisahkan dari hubungan dengan Tuhan (hablum minallah).

“Allah menolong manusia melalui tangan manusia yang tergerak hatinya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *