Basecamp Rimbaga
Panca Budhiarto (kanan) saat berbincang-bincang dengan pendaki Jurnalis FC Semarang.(Foto. BahteraJateng/day)

Kisah Mantan Jurnalis yang Memilih Membangun Gerakan Konservasi di Lereng Timur Gunung Ungaran

SEMARANG[BahteraJateng] – Keputusan besar diambil Panca Budhiarto pada 2025. Setelah sekitar 10 tahun berkarier sebagai jurnalis di Kompas TV (2015–2025), pria 42 tahun itu memilih mengundurkan diri untuk fokus pada pemberdayaan masyarakat dan konservasi alam di lereng timur Gunung Ungaran.

Kecintaannya pada alam bukan hal baru. Sejak SMP ia telah aktif mendaki gunung. Masa kecilnya di Magelang yang dekat dengan Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing membentuk kegemarannya menjelajah alam. Pengalaman itu kemudian membawanya aktif sebagai relawan kemanusiaan, termasuk anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan terlibat dalam berbagai operasi kebencanaan, salah satunya saat erupsi Merapi.

Kini, pengabdiannya bergeser menjadi relawan konservasi.

Awalnya, Panca bersama komunitas Wasena ingin membangun rumah bibit sebagai pusat konservasi di Desa Nyatnyono, Kecamatan Ungaran Barat. Namun, Kepala Desa memberi tantangan agar mereka juga mengangkat potensi wisata alam desa yang selama ini dikenal sebagai tujuan wisata religi.

Tantangan itu melahirkan gagasan membuka Jalur Pendakian Gunung Ungaran Puncak Suroloyo via Nyatnyono.
Perintisan dimulai pada Desember 2025 dan Basecamp Rimbaga resmi diluncurkan pada Januari 2026.

Menurut Panca, jalur tersebut bukan membuka hutan baru. Sekitar dua pertiga jalur memanfaatkan jalan kebun kopi milik warga, sedangkan sepertiga sisanya menggunakan jalur ziarah menuju Sendang Suroloyo yang memang sudah ada sejak lama.

“Tujuan utamanya bukan sekadar mendatangkan pendaki, tetapi agar sebagian besar hasil pengelolaan kembali lagi ke alam melalui kegiatan konservasi,” ujarnya kepada BahteraJateng belum lama ini.

Di awal pengelolaan, tantangan terbesar datang dari sebagian masyarakat yang belum memahami tujuan keberadaan basecamp. Pendekatan persuasif terus dilakukan hingga akhirnya mendapat dukungan, terutama dari petani kopi dan warga sekitar.

Dalam jangka panjang, Basecamp Rimbaga tidak hanya menjadi pintu pendakian. Panca ingin mengembangkan kawasan camping ground untuk wisata matahari terbit. Dari lokasi tersebut, pengunjung dapat menikmati panorama matahari terbit (sunrise), matahari terbenam (sunsite), city light Semarang, hingga bentang alam hampir 180 derajat.

Jalur ini juga memiliki kekayaan budaya religi berupa Makam Mbah Cebuk, Makam Nyi Suko, serta Sendang Suroloyo yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Nyatnyono.

Komitmen konservasi Panca semakin kuat setelah terlibat penelitian burung rangkong bersama komunitas Akar Banir dan akademisi. Pengalaman melihat langsung satwa langka itu membuatnya bertekad menjaga habitat Gunung Ungaran.
Selain rangkong, kawasan tersebut masih menjadi habitat Elang Jawa, lutung, kidang, hingga berbagai jenis burung hutan.

Panca bersama relawan menargetkan penanaman sedikitnya 1.000 pohon setiap tahun. Bibit yang diprioritaskan merupakan tanaman asli kawasan seperti nogosari dan berbagai jenis ficus yang berfungsi menjaga sumber mata air.

Baginya, menjaga hutan Gunung Ungaran bukan hanya menyelamatkan flora dan fauna, tetapi juga melindungi daerah tangkapan air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Kabupaten Semarang, Kota Semarang, hingga Kendal.

“Kalau hutannya lestari, sumber air juga akan tetap terjaga. Itu yang ingin kami wariskan,” kata Panca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *