Mgr. Robertus Rubiyatmoko
Foto: Tangkapan layar Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko saat menyampaikan Surat Gembala Merayakan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI (Sumber: Youtube Komsos Keuskupan Agung Semarang)

Surat Gembala Perayaan HUT RI ke-81, Uskup Semarang: Kesenjangan Ekonomi Masih Terasa

SEMARANG[BahteraJateng] – Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, mengeluarkan surat gembala di momen perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Berbagai hal disampaikan pemuka agama Katolik ini sebagai bahan renungan dan dorongan untuk bertindak bersama.

Menurutnya, Kemerdekaan bukan hanya warisan untuk dinikmati, melainkan tanggung jawab untuk terus dirawat. Merdeka berarti berani membangun kehidupan bersama yang lebih adil dan sejahtera. Di tengah rasa bersyukur atas banyak kemajuan bangsa, ia melihat berbagai persoalan yang masih dihadapi. Diantaranya kesenjangan ekonomi masih terasa, dan bahkan semakin terasakan akhir-akhir ini.

“Sebagian saudara kita masih mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan tempat tinggal yang layak. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelemahan supremasi hukum, pembungkaman ruang dan masyarakat sipil, kekerasan, perdagangan manusia, dan berbagai ketidakadilan masih melukai kehidupan bersama,” ungkap Mgr. Rubi dalam video yang diunggah di kanal youtube Komsos Keuskupan Semarang pada Kamis (13/8).

Lebih lanjut ia menyatakan persaudaraan mudah retak karena perbedaan agama, etnis dan pilihan politik, sikap merasa kelompok sendiri paling benar, berita bohong, dan ujaran kebencian. Alam juga terluka: hutan berkurang dan hancur akibat penebangan secara tidak bertanggungjawab, sungai tercemar akibat limbah yang tidak diolah, sampah menumpuk hingga mengganggu kesehatan, dan penambangan yang tidak bertanggung jawab demi mengejar keuntungan ekonomi.

“Ini semua mengancam kehidupan masyarakat serta masa depan generasi mendatang,” ujarnya.

Ia pun menyerukan empat langkah pertobatan bersama. Pertama dengan membangun dan mengembangkan komunikasi kasih yang saling menghormati dan mengikis perseteruan, permusuhan, atau konflik. Kedua dengan merawat bumi untuk mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan.

“Kita dampingi keluarga miskin dan rentan. Kita dukung usaha kecil dan koperasi yang sesungguhnya dan sudah berkembang baik, serta membuka kesempatan kerja,” kata Mgr. Rubi.

Pada saat yang sama, laku lestari seperti mengurangi pemakaian plastik, memilah dan mengolah sampah menjadi berkah, menghemat dan menjaga sumber air, misalnya dengan membuat sumur resapan di sekitar rumah, serta menanam dan merawat pohon juga perlu dikembangkan.

Ketiga menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijaksana demi martabat umat manusia.

“Kita periksa kebenaran informasi sebelum membagikannya; tidak membuat atau menyebarkan berita bohong, fitnah, gambar palsu, dan ujaran kebencian sebagaimana masih sering kita jumpai. Teknologi memang membantu kita mengambil keputusan, namun tanggung jawab moral tetap berada pada manusia, imbuhnya.

Dan yang terakhir kepada para pemimpin dan pemegang tanggung jawab publik, masyarakat menaruh harapan agar berani menghentikan kebijakan yang merugikan kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat.

“Setiap kebijakan semoga lahir dari kesediaan mendengarkan suara dan kepentingan rakyat, terutama mereka yang lemah serta dijalankan dengan jujur, transparan, dan berpihak pada keadilan, kesejahteraan bersama, dan kelestarian,” tandasnya.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *